Pernah dengar? orang-orang sering bilang istilah ini tapi apa artinya ya?
coba kita liat di urbandictionary.com:
| A martial arts studio that basically spits out belts to hold the attention of its students so they can suck the money out of them. A mc dojo is when Johnny took martial arts for 5 months and got his yellow belt.Chris took martial arts for 4 weeks and got his yellow belt while being sloppy and unprepared. | ||
Belakangan banyak sekali McDojo-McDojo yang bermunculan, bahkan saya menjadi saksi mata sendiri. Bagaimana sebuah perguruan silat, ga enak disebut namanya, hanya dengan modal memotret seorang pendekar silat dia membuka dojo.
Wow, ini sangat menjatuhkan aliran beladiri bersangkutan, dan ini sering terjadi di kehidupan sehari-hari, dimana banyak guru2 palsu membuka dojo karate/TKD/Kempo/etc dan menjanjikan kenaikan sabuk yang cepat. Padahal, terkadang sabuk bukanlah segalanya dalam MA, bang Bruce Lee pernah bilang satu-satunya kegunaan sabuk ialah mencegah celana melorot.
Memang sih dojo-dojo yang memang memegang prinsip mereka, tidak dengan mudah mengumbar sabuk. Hanya saja ulah oknum-oknum tertentu bisa menjatuhkan lairan beladiri tertentu dan dianggap McDojo...biasanya sih aliran beladiri yang udah kondang!
Label: daily post, martial arts
Kali ini saya akan mengulas tentang kuda-kuda. Sebagian aliran beladiri tradisional sangat menjunjung tinggi penguasaan dan kekuatan kestabilan kuda-kuda. Kuda-kuda yang kokoh adalah kunci dalam pertarungan kata mereka.
Tidak sepenuhnya salah, karena bagi standing fighter seperti saya, sebisa mungkin jangan sampe jatoh, jangaaan, abis deh kalo suruh guling2 di tanah, gada persiapan :D. Dengan kuda2 yang kokoh, bisa menghindari takedown dan srudukan mauth dari lawan yang tubuhnya gede.
Tapi ada juga beladiri2 yang memakai kuda-kuda lemah dan labil, ini bukannya tidak disengaja. Karena beladiri-beladiri tersebut memang sengaja memancing musuh untuk masuk teritori mereka. Seperti BJJ yang ga segan-segan maen "bawah" sama lawan, sehingga sengaja memancing dengan kuda-kuda lemah, ketika lengah, bet-bet-bet, eh tau-tau kena armbar.
Kuda-kuda juga bisa diterapkan untuk counter-grappling dalam pertarungan, walaupun menurut saya lebih bagus belajar grappling sehingga siap untuk worst case scenario jika memang harus guling-gulingan di tanah.
Dalam hal menyerang, kuda-kuda tak kalah penting. Seperti di Taekwondo, jika sedang menendang, dan kaki satunya labil, lawan bisa dengan mudah menyeruduk dan takedown atau melakukan sapuan sehingga jatuh dan jadi bulan-bulanan.
Dalam Silat yang saya pelajari (Merpati Putih) kuda2 yang bagus adalah mutlak, untuk penguasaan nafas dan power yang bagus, sehingga tidak goyah ketika harus menarik energi berskala besar dari alam. Bahkan salah satu menu utama latihan adalah latihan kuda2, latihan paling menyiksa, tapi hasilnya, jangan ditanya deh.
Jadi, pohon yang kuat adalah pohon yang akarnya kuat mencengkram tanah sehingga tidak terbang ditiup angin :D
PS: Sebagian sumber dalo blog tifan pokhan, thx for the materials :D
Label: daily post, martial arts
Sebelumnya saya mau curhat, gara2 dingin, beberapa hari ini mencret-mencret dan masuk angin. Ah, sekolah terbengkalai, tidaaak!
Bakat, beberapa orang mengagungkan bakat dan bakat, mereka menganggap orang dengan bakat rendah adalah orang yang tak berguna. Kejam, padahal, bakat bukanlah segalanya. Untuk sukes, manusia hanya butuh satu bakat, Bakat bekerja keras.
Ya! dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah, kita bahkan bisa memindahkan gunung, masa sih? Gini loh, maksudnya memindahkan gunung itu kita mencangkul pasir dari gunung A ke tempat B, lama2 gunungnya hilang dan berubah jadi kota dan bangunan di tempat B. Dengan kerja keras dan pantang menyerah, selama apapun, pasti bisa.
Yang menentukan kegagalan dan kesuksesan hanyalah umur, seberapa jauh kita ketika kita kembali kepada-Nya.
Bakat dan Martial Arts
Dalam beladiri seringkali muncul bakat-bakat petarung yang hebat. Banyak orang-orang "biasa" yang menyerah ketika berhadapan dengan orang-orang "berbakat" tersebut. Mereka merasa beladiri bukanlah bidang mereka ketika melihat orang-orang berbakat menunjukkan keahliannya.
Sebenarnya anggapan itu samasekali salah, bakat bukanlah segala-galanya. Bapak saya pernah berpesan kalau orang kepintaran pasti selalu kalah oleh kerajinan, well, dia benar. Setidaknya, orang yang standar-standar aja bisa berada di level yang sama jika berlatih dan berusaha berkali-kali lipat dibanding orang yang jenius.
Dalam MA, jika ingin kuat, maka berlatih dan sparring yang banyak. Pengulangan adalah kewajiban, master MA sejati adalah master yang selalu melakukan latihan dasar secara rutin. Saya sempat membaca komik "History Strongest Diciple Kenichi", komik tentang MA. Ceritanya tentang anak SMA yang biasa di-bully oleh teman-temannya, akhirnya dia belajar MA dari 8 orang master MA berbagai aliran, dan menjadi jagoan di kota tsb.
Dia sama sekali tidak memiliki bakat dalam MA, tetapi para master MA melihat hal lain dalam diri Kenichi, kemauannya dalam berlatih dan bekerja keras serta semangat pantang mundur. Dari anak lemah yang biasa diganggu menjadi petarung kuat yang disegani.
Jadi ingat satu pepatah yang saya pernah lihat :
"Orang sabar bukan berarti lemah, sabar dalam berlatih, memupuk kekuatan dan keahlian sedikit demi sedikit dalam latihan, menjadi kuat langkah demi langkah, orang sabar ditakdirkan untuk menjadi kuat"
Hmm, liat dimana yah, saya lupa........anyway, ini cuma opini saja, kalau tidak setuju ya jangan diambil hati :D
Label: curhat, daily post, martial arts
om Harkon, udah jadi nih
Martial arts are systems of codified practices and traditions of training for combat. They may be studied for various reasons including combat skills, fitness, self-defense, sport, self-cultivation/meditation, mental discipline, character development and building self-confidence, or any combination of the above.
Beladiri adalah sistem-sistem praktis dan tradisi dari latihan yang dikodifikasikan untuk pertempuran. Beladiri bisa dipelajari dengan berbagai alasan termasuk kemampuan bertarung, kebugaran, pertahanan diri, olahraga, meditasi, disiplin mental, pengembangan karakter dan membangun percaya diri
There is a great diversity and abundance of martial arts but, broadly speaking, martial arts share a common goal: to defeat a person physically or to defend oneself from physical threat. Some martial arts are linked to spiritual or religious beliefs/philosophies such as Buddhism or Shinto while others have their own spiritual/non-spiritual code of honor.
Ada perbedaan dan keragaman besar dari beladiri, tetapi secara garis besar, beladiri memiliki satu kesamaan dalam tujuannya: mengalahkan seseorang secara fisik dan atau mempertahankan diri dari ancaman fisik. Beberapa beladiri dihubungkan dengan spiritual atau agama tertentu seperti Buddha dan Shinto dimana yang lainnya memiliki etika kehormatan spiritual/non spiritual sendiri.
While each style has unique facets that makes it different from other martial arts, a common characteristic is the systemization of fighting techniques. One common method of training, particularly in the Asian martial arts, is the form or kata; these are sets or routines of techniques that are performed alone, or sometimes with a partner.[1]
Setiap aliran memiliki fase unik yang membuatnya berbeda dari beladiri lain, sebuah karakteristik umum merupakan sistemasi dari teknik bertarung. Satu metode umum dari metode latihan, khususnya di Asia, adalah bentuk kata; ini merupakan set-set atau rutinitas teknik-teknik yang dilakukan sendiri, atau kadang dengan pasangan.
The word 'martial' derives from the name of Mars, the Roman god of war. The term 'Martial Arts' literally means arts of Mars. This term comes from 15th century Europeans who were referring to their own fighting arts that are today known as Historical Fencing. A practitioner of martial arts is referred to as a martial artist.
Kata ‘martial’ dari ‘martial arts’ sendiri berasal dari dewa perang Mars, dari Mitologi dewa-dewi Romawi. Secara literal istilah ‘martial arts’ berarti seni dari Mars. Istilah ini berasal adri abad 15, orang Eropa yang menyebut seni bertarung mereka yang sekarang dikenal dnegan “Historical Fencing”. Seorang praktisi beladiri biasa disebut pendekar/martial artist.
Label: daily post, martial arts
Apaan nih? ndra, u lagi mikir apasih?
tenang dulu, maksud saya, makin berilmu dan tahu sesuatu, maka kita akan merasa semakin bodoh dan kerdil, kenapa? well, ini hanya pendapat pribadi sih, jangan diambil hati kalau nggak suka :D
Sewaktu masih SMA, pertama kali belajar silat saya pedenya bukan main, rasanya kalau ketemu orang songong dijalan pengennya maen hajar aja. Bayangin aja, baru belajar 6 bulan udah bisa matahin besi, gimana ga gede tuh kepala? yah begtulah kalau masih immature, masih bau kencur hahahaha, untung belum kena batunya!
Bahkan, saya sempat bersitegang dengan temen saya karena saya berkeras kalau beladiri yang saya anut itu paling hebat! fuuh, taklid buta deh. Setelah waktu berlalu, akhirnya mata saya terbuka, benyak sekali jago2 beladiri lain, bahkan yang dulunya saya remehkan ternyata kalau dilawan sulit juga ^^, makin merasa lemah dan tidak percaya diri lah yang akhirnya melanda :D
Saya juga mulai terbuka pandangannya setelah membaca komik Vagabond yang menceritakan pendekar paporit saya, Musashi Miyamoto. Beliau di salah satu volumenya digambarkan menanjak gunung, yang melambangkan dirinya, setelah susah payah (kakinya ketusuk paku, cucian de lu, jaman dulu kaga ada sepatu boots!) dia akhirnya sampai di atas puncak. Dia girang setengah mati, tetapi tidak lama awan yang menutupi mulai tersingkap, dan dia tercengang. Dia melihat banyak gunung-gunung lain yang lebih tinggi darinya, yang katanya ingin tahu seberapa dekat dia dengan puncak dunia (dasar gila...).
Setelah itu pribadinya jadi lebih sopan dan pendiam, tidak seperti pertama kali berkelana, yang mana nafsu membunuhnya terpancar jelas seperti binatang buas. hahaha, jadi ingat, "mersudi patitingsih tindak pusakane titising hening", mencari tindakan yang benar, dalam keheningan.
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan, kalau aliran beladiri itu hanyalah jalan, yang berbeda panjang dan lebarnya, tetapi satu tujuannya, mencari selamat di saat terdesak, mencari jatidiri dan kebenaran atas diri sendiri. bang bruce Lee pernah bilang, sesungguhnya beladiri paling kuat itu nggak ada, yang ada hanyalah pendekar yang lebih kuat, bener juga bos.....
Semakin lama waktu terlewati, semakin dekat dengan kebenaran, semakin kerdil dan bodohlah kita dihadapan Yang Maha Kuasa....
Ngaskus lagi ah, beraaat :D
Label: daily post, martial arts
Sebelumnya terimakasih, sama blog JALAN PETARUNG (maap salah melulu), inspiratif sekali
Jadi apa dong? well, singkatnya, anggap beladiri itu ilmu, yang selalu dicari dan disempurnakan sampai akhir hayat, dan diturunkan ke generasi berikutnya (cieh....)
Pernah denger? well, banyak banged yang mendewakan salah satu beladiri, sampe2 berkeras hati kalau another MA is sucks!, damn i hate those kind of guys. Beladiri tu bukan agama, ga usahlah lu bela mati-matian, toh kalo elu jago, bukan beladirinya, tapi elunya yang jago, dan kalo elu payah bukan beladirinya yang payah, tapi karena elu yang kurang berlatih!
Well bukannya teknik ga penting, tapi misalkan lu berlatih BJJ yang terkenal jago mengalahkan jagoan2 striking, tapi in the end u kalah gara2 musuh kamu pukulannya tepat, jago ngehindarin submission dan semua strikenya masuk, gempor deh....padahal dia cuman berlatih pukulan lurus dan tendangan lurus selama hidupnya, tapi saking serius dan kerasnya latihan dia, tu pukulan dan tendangan udah bukan milik manusia lagi heheheehehe.
Dalam berguru selalu kosongkan ilmumu! anggap kamu nggak pernah latihan sebelumnya.....anggap kamu itu pemula, ambil yang bagus, buang yang jelek, train smart, train hard! mana ada jagoan yang jadi dalam sehari? Son Go Ku sama Naruto aja betaon2 baru bisa sakti mandraguna kayak begitu :D di komik aja begitu apalagi di dunia nyata, betul?
Dulu pelatih saya, mas Endru dan Mas Rio pernah bilang, kalau jagoan sejati bukan karena "diisi" atau "dibantu" sama instruktur, tapi karena berlatih dan berlatih, tak kenal musim dan cuaca. Bahkan mereka dengan humblenya bilang kalo saya bisa melebihi mereka asalkan berlatih lebih keras dari mereka. Wow, motivated abis kan? beruntungnya diri ini punya guru yang teladan seperti itu :D hohoho.
Mersudi patititingsih tindak pusakane titising hening (maap kalo salah), artinya mencari kebenaran/jalan yang benar dalam keheningan/kedamaian u choose deh ^^., maknanya dalam sekali loh sodara-sodara, dalam berguru jangan taklid/percaya buta sama suatu omongan, percaya harus, tapi telaah dengan hati, apa bener? apa masuk akal? . Saya sempat skeptis soal getaran, tetapi setelah melihat sendiri kedahsyatannya, wow, speechless deh, kalo udah bener2 menguasai, yang namanya istilah "membaca gerakan" bukan isapan jempol loh.
tapi inget, guru adalah manusia juga, jadi kalo dia salah satu dua kali harap maklum, apalagi biasanya tua-tua tuh master MA :D pikun nak !. Sekali lagi telaah, jangan mudah percaya sama marketing MA, termasuk blog ini, anda cerna lagi, bener ga sih yang ni artikel bilang? well penonton lah yang menilai, penulis duduk manis sambil ngebokep di tab lainnya :D.
Label: daily post, martial arts
Menghitung hari...detik demi detik.... :D
tinggal dua hari lagi, enaknya ngepost apa ya? kayaknya frekuensi keaktifan saya akhir2 ini berkurang....
kemaren blogwalking nemu blog keren, jalan pendekar, wuih..sangar bo! gw jadi mempertanyakan tata cara tanding silat sekarang, yang sudah "melunak" karena teknik pertandingan jadi teknik untuk mengejar poin, bukan untuk street survival, self defense atawa killing method. Memang kalo silat yang sbenernya dipraktekan, sangat berbahaya.
Contohnya gerakan patah tebu, yang bertujuan menghancurkan tulang musuh yang tertangkap...atau gerakan sodokan yang haram dilakukan di atas ring, saya jadi mempertanyakan, tanding tuh hanya mengejar poin atau esensi pertarungan sebenarnya bagaimana?
ketika saya melihat UFC, saya jadi ingin merubah pola pikir dan teknik para pesilat, tak usahlah tanding-tanding, prestasi tak menjamin ente bisa survive di jalanan, itu yang penting...apalagi yang suka gaya2an hoeks muntah lah saya....kembalikan silat ke akarnya, beladiri untuk bertahan hidup dan mengusir penjajah dari tanah air Indonesia!
Label: daily post, martial arts
Pernah denger? pasti lah, lah wong saya kopas dari forum sama blog lain hehehe, isi waktu, dapet dari http://hartcone.multiply.com/journal/item/43, kunjungi yah!
Bela Diri
Oleh : Akmal Syafril
Kalau saya boleh berfatwa, maka bela diri akan saya wajibkan untuk setiap Muslim dan Muslimah. Tapi berhubung derajat saya masih bagaikan bumi dan langit dengan ulama-ulama sekaliber Yusuf al-Qaradhawi, misalnya, maka biarkanlah hal ini tetap menjadi sebuah saran pribadi. Tapi ini adalah sebuah saran yang amat serius. Tidak main-main.
Paling tidak ada dua alasan kenapa saya 'berfatwa' demikian :
1. Kenyataannya, bela diri adalah sunnah Rasulullah saw. Banyak orang bilang bahwa Rasulullah saw. tidak pernah belajar bela diri. Kalau dikatakan beliau tidak pernah berguru pada seorang guru silat, mungkin memang benar. Namun rasanya terlalu gegabah kalau mengatakan bahwa beliau tidak bisa bela diri, mengingat track record beliau yang sangat mengagumkan di medan perang. Tidak seperti jenderal jaman sekarang, beliau selalu berada di garis terdepan. Memang beliau pun bisa terluka, tapi kehebatan tempurnya tidak bisa diragukan lagi. Menurut saya, mereka yang bilang bahwa Rasulullah saw. tidak bisa bela diri harus rajin-rajin menelaah sirah nabawiyah kembali. Faktanya sudah sangat jelas, kok!
2. Bela diri adalah kebutuhan dakwah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa dakwah Islamiyah sekarang ini dimusuhi habis-habisan. Musuh-musuh Islam tidak akan segan-segan melakukan kekerasan pada para kader dakwah. Di Mesir, Ikhwanul Muslimin menjadi oposisi terbesar, sekaligus menjadi golongan penghuni penjara yang paling banyak. Di Aljazair, partai Islam dikudeta oleh militer meskipun memenangkan pemilu secara adil. Di Indonesia, para preman tidak jarang dikerahkan untuk mengintimidasi kegiatan-kegiatan partai dakwah. Ini adalah kenyataan, bung! Kita harus survive. Bela diri adalah salah satu solusi yang baik.
Di samping itu, ada beberapa pelajaran bagus yang dapat kita ambil dari bela diri. Pelajaran-pelajaran itu sifatnya bukan hanya teori, melainkan empiris juga. Anda harus merasakannya dahulu baru bisa mengerti. Membaca uraian ini tidak akan banyak membantu jika Anda tidak pernah merasakan 'sensasinya'. Paling tidak ada lima pelajaran yang dapat kita petik dari ilmu bela diri.
Apa adanya. Bela diri itu memang apa adanya. Jujur pada kenyataan. Bela diri akan segera hancur binasa kalau sudah mulai tidak jujur pada kenyataan. Bela diri adalah ilmu yang mengajarkan cara untuk menyelamatkan diri. Karena itu, ia haruslah bertolak dari kenyataan di lapangan. Kalau tidak mau bersikap apa adanya, maka bukan bela diri lagi namanya, melainkan sekedar olah raga atau tari-tarian.
Contoh gampangnya begini. Dalam pertarungan sebenarnya, peraturan apakah yang dipakai? Tentu tidak ada! Kita tidak bisa memaksa lawan untuk menggunakan tangan kosong, atau menyuruh mereka untuk tidak menggunakan senjata. Kita juga tidak bisa protes kalau mereka mengeroyok kita. Kita pun tidak mungkin meminta body protector demi keselamatan bersama. Kita tidak bisa mencegah mereka untuk menusuk mata atau menendang kemaluan. Itulah kenyataan di jalanan. Kalau bela diri sudah mengabaikan kenyataan itu, maka hancurlah esensi bela diri itu sendiri. Mungkin ia akan tetap banyak diminati, namun esensinya akan hilang.
Saya ambil contoh perbandingan antara Judo dan Gracie Jujitsu. Sebenarnya, kedua bela diri ini nenek moyangnya sama. Sama-sama Jujitsu. Akan tetapi, dalam pertarungan di UFC dan Pride, misalnya, yang menang selalu Gracie Jujitsu, bukan Judo. Apa bedanya? Bedanya, Gracie Jujitsu berlatih dengan mempertimbangkan semua jenis lawan. Lawan yang gemar memukul, gemar menendang, gemar kuncian, semuanya dipelajari. Gracie Jujitsu juga mengembangkan teknik-teknik yang memungkinkannya menaklukkan lawan yang tidak mengenakan gi (seragam bela diri ala Jepang, misalnya seragam Judo atau Karate). Di sisi lain, Judo selalu berkutat dengan aturan ini-itu. Tidak boleh memukul, tidak boleh menendang, dan sebagainya. Hal ini tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Akan tetapi, saya sangat menghargai kejujuran Jigoro Kano, sang pendiri Judo, yang menegaskan bahwa Judo bukanlah untuk bertarung, melainkan untuk sportifitas.
Bela diri mengajarkan kita untuk bersikap apa adanya. Bruce Lee mengabaikan aliran kung fu yang dipelajarinya sebelumnya dan kemudian menciptakan sebuah aliran baru, yaitu Jeet Kune Do. Menurutnya, kung fu klasik itu keblinger. Anatomi manusia jelas beda dengan binatang. Karena itu, gerakan yang efektif bagi manusia jelas beda dengan gerakan yang efektif untuk hewan. Lalu apa gunanya mempelajari gerakan-gerakan belalang sembah, harimau, bangau, dan sebagainya? Mengapa kita tidak menghadapi kenyataan bahwa anatomi manusia memang begini adanya, lalu merumuskan teknik-teknik yang sesuai dengannya?
Masutatsu Oyama, seorang pemilik nama besar di dunia Karate, juga melakukan 'revolusi' yang sama dalam bela diri. Beliau tidak dikenal karena penguasaan rangkaian jurusnya (kata). Oyama dikenal karena kekuatannya. Latihannya sederhana. Pergi ke hutan, cari apa pun yang bisa dipatahkan dengan tangan dan kaki. Alhasil, ia menjadi salah seorang petarung yang paling ditakuti di Jepang. Inilah realita lapangan. Setuju atau tidak, ya terserah!
Bela diri bukanlah seni yang berindah-indah. Bela diri adalah segala cara yang bisa digunakan untuk menjamin keselamatan pribadi dan orang lain (tidak termasuk keselamatan lawan). Mungkin terdengar kasar dan kejam, tapi dunia ini memang kejam, kawan!
Semua ada tahapannya. Belajar bela diri tidak mungkin tanpa tahapan. Kita tidak mungkin langsung berlatih ke tahap advance tanpa melalui tahap-tahap basic terlebih dahulu. Ini juga merupakan sunnatullaah. Tidak ada manusia yang langsung bisa. Kalau berhasil, maka kita tidak perlu bangga, karena masih ada tahapan lain yang lebih tinggi dan lebih susah. Kalau gagal, kita pun tidak perlu kecewa, karena semuanya pernah gagal. Bruce Lee dan Masutatsu Oyama juga pasti pernah gagal. Kesadaran akan 'tahapan' ini memberikan banyak konsekuensi dan memberikan banyak pelajaran bagi kita.
Jam terbang adalah segalanya. Percayalah, meskipun sama-sama latihan memukul, orang yang baru belajar sehari jelas beda dengan orang yang sudah berlatih setahun. Dalam bela diri, tidak ada jalan pintas atau calo. Kalau mau lebih hebat, ya berlatihlah lebih giat! Tidak ada tempat untuk orang manja yang mau enaknya saja. Dengan repetisi ratusan atau ribuan kali, jurus yang sulit pun akan terkuasai. Cepat atau lambatnya itu urusan belakangan (lebih tepatnya lagi : itu urusan Allah). Yang penting ikhtiar saja dulu habis-habisan. Inilah cara berpikir yang harus digunakan oleh setiap Muslim, apalagi mereka yang membaktikan dirinya dalam dakwah.
Selalu ada pilihan. Dalam hidup, manusia selalu punya pilihan. Udara dingin tidak mesti menjadikan kita kedinginan. Keadaan sulit tidak harus membuat kita putus asa. Semuanya adalah pilihan yang dapat kita ambil. Bahkan tidak memilih pun merupakan sebuah pilihan. Anda dapat berlatih malas-malasan dan seperlunya, namun akhirnya kemampuan Anda akan tumpul dengan sendirinya. Atau, Anda dapat berlatih dengan giat, dengan imbalan mendapatkan peningkatan kemampuan yang signifikan.
The choice is all yours !
Tidak ada jalan selain sabar. Sabar adalah suatu fungsi kekuatan. Sabar sama sekali tidak identik dengan kelemahan dan ketidakberdayaan. Orang yang mampu sabar adalah orang yang ditakdirkan untuk jadi kuat. Mereka yang ingin jadi ahli bela diri harus berlatih dan berlatih, tidak kenal hari libur dan tidak peduli musim. Kalau mau lebih hebat lagi, mau tidak mau ya harus lebih sabar lagi. Ini adalah sunnatullaah yang sangat penting untuk disadari dan berlaku umum dalam segala persoalan.
Jadi, marilah kita belajar bela diri! Bela diri yang mana, nih? Saya rasa kriteria 'apa adanya' bisa membantu Anda untuk memilih bela diri yang sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Label: daily post, martial arts
Akhir-akhir ini banyak sekali saya lihat banyak sekali video beladiri yang mengagungkan grappling dan MMA. Gak salah, sih, saya juga setudju dengan ini karena sejago2nya orang, kalo udah ketangkep sama ahli grappling, wassalam dech.
Setelah saya browse2 lagi, nemu forum namanya bullshido, dan forum ini benar2 menganjurkan belajar grappling, kenapa? kita lihat:
1. Orang bilang, kalo udah jago striking, ngapain belajar grappling? bener juga, tapi, sejago2nya ga mungkin bisa jatohin musuh yang terlatih dan terdidik. Manusia beda ama sansak, sansak dipukul ga ngehindar, sansak emank meredam kekuatan pukul, tapi menurut saya, daging manusia itu salah satu bahan peredam pukul yang bagus
2. Orang bilang grappling ga bagus di area beraspal dan kerikil, salah bung! Justru enak, kalo u jago grappling, apalagi ground, jatohin musuh, gasak di aspal, enak dah tu punggungnya :D
3. Orang bilang grappling jadi bumerang kalo pertarungan one against many. Bener, tapi smeua beladiri juga begitu , kalo lawannya banyakan, apalagi bersenjata, u harus bener2 jago, kayak guru saya (bukannya sombong nih), dia 1 vs 45 cuman sakit badan doank -_-;
Saya ga mewajibkan ato mendewakan grappling, tapi alangkah baiknya kalo kita semua, yang mempraktisi MA tentunya, belajar grappling, ato seenggaknya belajar counternya lah, malu kan, udah betaon-taon belajar MA, eh kala ma anak MMA yang baru 6 bulan speliasisasi grappling ^_____^
Label: daily post, martial arts
